paroki padang bulan

MESKI HUJAN DERAS, SEMANGAT UMAT TETAP MEMBARA UNTUK MENERIMA ABU DI PAROKI ST FRANSISKUS ASSISI MEDAN PADANG BULAN

St.Fransiskus.id – Hujan deras yang mengguyur Kota Medan sejak siang hari tidak menyurutkan langkah umat untuk menghadiri Perayaan Ekaristi Rabu Abu di Paroki St Fransiskus Assisi Medan Padang Bulan, Rabu 18 Februari 2026. Meski jalanan basah dan langit tampak mendung, umat tetap berdatangan dengan penuh semangat untuk menerima tanda Abu sebagai awal Masa Prapaskah.

Sejak misa pertama digelar, umat sudah memenuhi halaman dan ruang gereja. Sebagian datang lebih awal agar dapat mengikuti perayaan dengan tenang, sementara yang lain rela berteduh sejenak sebelum memasuki gereja. Payung warna-warni dan jas hujan menjadi pemandangan yang menghiasi pelataran, namun suasana tetap tertib dan penuh kekhidmatan.

Perayaan Ekaristi berlangsung dengan lancar dan penuh makna. Dalam homilinya, Pastor mengajak umat untuk memaknai Rabu Abu bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momen pembaruan diri. Tanda abu yang dibubuhkan di dahi menjadi simbol bahwa manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Melalui simbol tersebut, umat diingatkan akan pentingnya pertobatan, kerendahan hati, serta kesadaran untuk memperbaiki hidup.

“Hujan boleh turun deras, tetapi semangat iman tidak boleh padam. Justru di tengah keterbatasan dan tantangan, kita dipanggil untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan,” pesan pastor dalam homilinya. Umat tampak mengikuti setiap bagian perayaan dengan khusyuk, mulai dari liturgi sabda hingga ritus penerimaan abu.

Rabu Abu menandai dimulainya Masa Prapaskah, yakni 40 hari perjalanan rohani menuju perayaan Paskah. Dalam masa ini, umat Katolik diajak untuk memperdalam kehidupan doa, menjalankan puasa dan pantang, serta meningkatkan karya kasih kepada sesama. Semangat tersebut tampak nyata dalam antusiasme umat Paroki Padang Bulan yang tetap hadir meski cuaca kurang bersahabat.

Beberapa umat mengungkapkan bahwa menerima abu merupakan momen penting untuk menata kembali kehidupan rohani. “Hujan bukan halangan. Justru ini menjadi bentuk pengorbanan kecil untuk menunjukkan kesungguhan hati,” ujar salah seorang umat yang datang bersama keluarganya.

Kebersamaan juga terasa kuat di antara umat. Petugas liturgi dan para pelayan gereja tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, memastikan perayaan berjalan tertib dan lancar. Kerja sama dan semangat pelayanan semakin memperlihatkan wajah Gereja yang hidup dan solid.

Hujan yang terus mengguyur hingga misa usai seolah menjadi simbol rahmat yang turun dari surga. Di tengah derasnya air yang membasahi bumi, hati umat tetap menyala oleh semangat pertobatan dan harapan. Perayaan Rabu Abu di Paroki Padang Bulan tahun ini menjadi kesaksian nyata bahwa iman yang kokoh tidak mudah digoyahkan oleh keadaan.

Dengan dimulainya Masa Prapaskah, umat Paroki Padang Bulan diharapkan semakin bertumbuh dalam kasih, kerendahan hati, dan kepedulian terhadap sesama, hingga akhirnya bersama-sama merayakan sukacita Paskah dengan hati yang diperbarui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Search

Popular Posts

Categories