chatgpt image may 28 2026 07 05 36 pm

SEJARAH STASI ST PETRUS SIMPANG KUALA

Gereja Katolik St. Petrus Simpang Kuala berdiri tahun 1956 dengan jumlah umat sekitar 20 KK. Gereja ini berdiri diatas tanah yang dibeli oleh Keuskupan (Uskup Mgr. AGP Datubara ) dengan ukuran 8 x 12 m yang terletak di Jln. Pintu Air IV Gg. Pertama (lorong V) Simpang Kuala Medan. Kurang lebih 10 tahun umat memakai gereja ini, seturut perkembangan jaman dan bertambahnya jumlah umat, maka disepakatilah untuk memindahkan lokasi gereja dan mencari lokasi baru. Lokasi gereja lama dijual kepada keluarga Pandiangan dan hasil penjualan pertapakan gereja tersebut dipergunakan untuk membeli tapak gereja baru yaitu di Jl. Luku I No. 1 Medan. Sekitar 2 tahun gereja yang lama masih tetap dipakai untuk beribadah setiap hari minggunya walaupun sudah dijual, menunggu pengumpulan dana dan pembangunan gereja dilokasi yang baru. Dengan berbagai upaya dan kerjasama umat yang pada waktu itu sangat bersemangat untuk dapat beribadah di lokasi gereja yang baru, maka umatpun dengan bersusah payah bekerja dengan sukarela dan mencari donator untuk penyelesaian gereja tersebut, kurang lebih 1 tahun gereja inipun selesai dibangun dengan semi permanen dan ukuran luas bangunan yang sempit. Nama simpang kuala hingga sekarang masih tetap dipakai adalah bermaksud untuk mengenang asal gereja yang lama.

Pada tahun 1968, umat pindah ke Jl. Luku dengan gereja yang sangat sederhana dengan tiang bambu, dingding tepas dan atap rumbia. Tahun 1972, gereja dibangun dengan semi permanen (setengah batu) bentuk salib (kecil di depan dan melebar ke kiri dan ke kanan), di bawah paroki Katedral Jl. Pemuda. Tahun 1990 pembangunan secara permanen dimulai oleh umat dengan Pastor Antoni Murru dengan tidak mengganggu bangunan lama tetap ditengah bangunan baru, setelah bangunan baru selesai, maka bangunan lama dibongkor disinilah istilah Tigor Pulos yang hanya orang-tua pendahulu yang mengerti apa artinya dan Tigor Pulos ini langsung dari uskup Mgr. AGP. Datubara. Karena pada masa pembangunan inilah terjadi masalah dengan umat muslim sekitar lokasi gereja Jl. Luku yang menolak pembangunan gereja tersebut. Untuk memperjuangkan pembangunan gereja ini, ada umat yang ditangkap dan dipenjarakan di Tebing Tinggi (Deli Serdang) demi berdirinya gereja ini. Dari tahun 1972 hingga sekarang, gereja St. Petrus Sp. Kuala sudah mengalami beberapa kali renovasi, dan terakhir tahun 2012 yaitu penambahan balkon gereja di bahagian depan dekat pintu masuk dan menara gereja. Renovasi ini dilakukan bertujuan untuk menampung umat yang dari tahun ke tahun mengalami pertamhan yang sangat pesat yaitu sekitar 17 lingkungan dengan jumlah umat 650 KK.

Pada tahun 2013, Gereja St. Petrus Simpang Kuala dimekarkan menjadi 2 stasi yaitu Stasi baru Gereja Santo Yosep Gedung Johor, dengan pengurangan 3 Lingkungan yaitu kurang lebih sebanyak 130 KK. Sejak saat itu, Stasi Sp. Kuala tinggal 14 lingkungan lagi dengan jumlah umat kurang lebih 500 KK. Kehadiran umat setiap minggu berkisar kurang lebih 60% dan lebih didominasi oleh kaum ibu-ibu/perempuan. Kelompok kategorial yang ada sekarang yaitu : kelompok Ibu-ibu, Bapak-bapak, Lansia, OMK, AREKA, dan BIA. Kelompok bapak-bapak pernah meraih juara II Koor pada Perayaan Paskah se-Paroki Padang Bulan tahun 2012, dan Stasi St. Petrus pernah menjadi juara 1 Koor pada Perayaan Natal 6 Paroki se –Konventual di Delitua.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *