Salve, saudara/i yang terkasih, seringkali muncul pertanyaan dalam hati kita atau dari sesama, “Mengapa kita harus berdoa melalui perantaraan orang kudus? Bukankah kita bisa langsung berdoa kepada Tuhan?” Kita bisa langsung berdoa kepada Tuhan tapi Gereja juga membuka ruang kepada umat untuk berdoa kepada Tuhan melalui para kudus di surga. Mereka bukanlah “saingan” bagi Tuhan, melainkan sahabat-sahabat Allah yang telah memenangkan pertandingan iman. Berdevosi kepada mereka adalah tanda bahwa kita menghargai karya ajaib Allah yang terpancar melalui hidup manusia biasa.
Selama ini, mungkin kita belum tahu bahwa Gereja meyakini tetap ada ikatan rohani antara umat yang masih hidup dengan jiwa-jiwa yang ada di api penyucian, dan para kudus di surga. Hubungan kita dengan para kudus tidak terputus oleh kematian (II, 1993)(LG Art. 49 ). Kematian fisik tidak memutuskan ikatan kasih dan doa antara umat di dunia dengan mereka yang telah di surga. Para kudus yang sudah menjadi saksi-saksi yang telah mendahului kita masuk ke dalam Kerajaan Allah tetap menjaga kita di dunia dan kita dapat bermohon melalui mereka supaya mendoakan kita dan seluruh dunia (KWI, Katekismus Gereja Katolik., 1995) (KGK 2683). Oleh karena itu, Gereja mengajarkan bahwa doa para kudus sangat berdaya guna. Karena mereka telah memandang Allah “muka dengan muka” (Visiun Beatifik), doa-doa mereka murni dan selaras sepenuhnya dengan kehendak Allah. Dalam (KWI, Katekismus Gereja Katolik., 1995) KGK 956 dikatakan bahwa para kudus tidak henti-hentinya mendoakan kita di hadapan Bapa. Mereka dapat kita jadikan sebagai pendoa dan sekaligus meneruskan permohonan kita kepada Allah Bapa karena mereka sudah dekat dengan Kristus. Penting juga diketahui, Ketika kita jadikan para kudus menjadi perantara doa-doa, itu bukan berarti mengurangi peran Kristus sebagai satu-satunya Pengantara antara Allah dan manusia. Sebaliknya, kekuatan doa mereka justru bersumber dari jasa-jasa Kristus. Kemudian di Surga, para kudus tidak “istirahat” dalam arti pasif. Sebaliknya, mereka menjalankan kasih yang lebih besar. St. Teresia dari Kanak-kanak Yesus pernah berkata, “Aku akan melewatkan surgaku dengan berbuat baik di bumi.” Maka pandanglah mereka sebagai saksi iman yang tetap peduli dan menjaga kita dari surga agar kita terhindar dari penyimpangan dan benar seturut ajaran, maka Gereja menegaskan bahwa yang boleh kita hormati dan dijadikan sebagai perantara doa adalah mereka yang telah dikanonisasi atau dibeatifikasi, (Katolik, 2006) KHK Kanon 1187. Singkatnya, devosi kepada para kudus adalah cara umat beriman merayakan kemenangan rahmat Allah dalam diri manusia sekaligus memohon dukungan doa untuk keselamatan jiwa kita.
Umat diajak untuk tidak hanya mengenal nama para kudus, tetapi menjadikan mereka sebagai “sahabat perjalanan” dalam iman. Aplikasinya bisa berupa rutin membaca riwayat hidup (hagiografi) para kudus untuk meneladani keutamaan hidup mereka. Boleh menjadikan mereka sebagai perantara doa dengan keyakaninan mereka akan meneruskannya kepada Allah dan Allah akan menjawab serta mengabulkannya. Dalam berdevosi, umat harus mengikuti aturan Gereja yakni kepada mereka yang telah resmi dikanonisasi menjadi Santo/Santa atau dibeatifikasi menjadi Beato/Beata guna menghindari kesesatan atau penyimpangan teologis. Kematian fisik tidak memutuskan ikatan kasih kita kepada para kudus di surga, melainkan menjadikan mereka sebagai satu keluarga besar yang tetap bersatu dengan kita yang masih berziarah di bumi. Allah senang ketika kita saling mendoakan, baik antar sesama di dunia maupun dengan mereka yang di surga. Dengan berdevosi kepada para kudus bukan memuliakan kehebatan manusia itu sendiri, melainkan memuliakan Allah yang telah berhasil mengubah manusia biasa menjadi pribadi yang suci dan mulia.

